Ketika Fanatisme bertemu dengan Toleransi

Diposting oleh fahmi petrucci | 07.18

Salah satu salah kaprah yang sangat kronis di dunia kita saat ini adalah: adanya anggapan bahwa FANATISME dan TOLERANSI merupakan dua musuh bebuyutan. Keduanya tak mungkin dipersatukan, tak mungkin seiring sejalan. Fanatik diartikan sebagai sebuah sikap “merasa paling benar dan tidak bisa menerima perbedaan”. Sedangkan toleransi adalah sebaliknya; “tidak merasa paling benar dan sangat akomodatif terhadap segala jenis perbedaan.” Fanatik dianggap sebagai sebuah sikap yang sangat tercela, sedangkan toleransi merupakan sikap yang sangat ideal di tengah keberagaman manusia di muka bumi ini.

Benarkah demikian?

Karena di atas saya sudah menyebut keduanya sebagai salah kaprah, maka jawabannya sangat jelas: TIDAK BENAR. Saya berpendapat bahwa fanatisme dan toleransi bukanlah musuh bebuyutan. Mereka justru dua sahabat lama yang saling merindukan. Keduanya bisa hidup seiring sejalan.

* * *

Fanatisme sebenarnya merupakan sebuah sikap yang sangat terpuji. Kenapa? Sebab ketika kita menganut kepercayaan tertentu, maka sikap ideal yang harus kita ambil adalah percaya bahwa kepercayaan kita itulah yang paling benar. Sebagai seorang Muslim, saya menganggap bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Yang lain tidak benar. Teman-teman yang beragama Kristen, Hindu, Budha, dan sebagainya pun, silahkan berpendapat bahwa agama andalah yang benar, sedangkan yang lainnya tidak benar. Inilah inti dari fanatisme.

Apakah sikap seperti ini tidak berbahaya?

Lho, kenapa berbahaya? Apakah saya salah ketika mempercayai sesuatu sepenuh hati saya? Apalagi jika kepercayaan itu menyangkut hidup dan mati saya, menentukan nasib saya setelah mati nanti. Di mana letak kesalahannya?

Fanatisme akan berdampak luar biasa terhadap sikap hidup seseorang. Karena fanatik terhadap Britney Spears, seorang anak ABG akan membeli seluruh kaset atau CD si Britney. Dalam berpakaian pun ia selalu meniru gaya Britney. Pokoknya semua serba Britney Spears.

Dalam beragama pun sama saja, kok. Ketika saya fanatik terhadap Islam, maka saya berusaha semaksimal mungkin untuk mengislamkan seluruh hidup saya. Islam adalah way of life bagi saya. Dalam konteks fanatisme, apa bedanya Britney Spears dengan Islam? Saya kira sama saja. Fanatisme terhadap apapun akan membuat kita berusaha mengidentikkan diri dengan si FAN tersebut. Tapi tragisnya, masyarakat kita cenderung sangat permisif terhadap sikap fanatik yang ditujukan bagi makhluk yang bersifat duniawi (artis, tokoh politik, negara tertentu). Namun, ketika seseorang fanatik terhadap agama yang dianutnya, kita ramai-ramai mencela, menyebutkan sebagai sikap yang sangat tidak terpuji.

Why? Kenapa kita jadi pilih kasih seperti ini? Padahal, agamalah yang akan menyelamatkan kita di akhirat nanti, bukan Britney Spears atau Amien Rais atau Gus Dur.

Tapi bagaimana kalau fanatisme akan merusak toleransi? Bagaimana kalau fanatisme membuat kita terpecah-belah, tidak bisa menerima perbedaan yang ada?

Duhai sahabatku! Fanatisme yang dilakukan secara benar tak akan mungkin bertolak belakang dengan toleransi. Islam misalnya, adalah agama yang penuh toleransi. Islam memberikan ajaran yang sangat sempurna tentang bagaimana kita sebaiknya berhubungan baik dengan saudara-saudara kita yang bukan beragama Islam. Bahkan faktanya, di negara manapun yang mayoritas penduduknya Islam, warga nonmuslim dapat hidup dengan aman dan nyaman.

Fanatisme sama sekali tidak bertolak belakang dengan toleransi. Fanatisme tidak sama dengan “tidak bisa menerima perbedaan”. Dalam konteks perbedaan, fanatisme adalah sikap untuk “berpegang teguh pada keyakinan yang kita anut, namun selalu menghargai siapa saja yang memiliki keyakinan yang berbeda.” Inilah fanatisme yang sebenarnya. Dan fanatisme yang seperti inilah yang telah diterapkah oleh Rasulullah SAW beserta para sahabatnya.

Ketika saya mengatakan “agama saya benar dan agama lain tidak benar,” ini sama sekali tidak mengandung arti “agama dan umat agama lain harus dimusnahkan.” Sikap fanatisme yang baik bukanlah halangan untuk bersahabat dan berhubungan baik dengan orang-orang yang memiliki keyakinan yang berbeda. Sudah demikian banyak orang yang membuktikan hal ini.

* * *

Lantas tentang toleransi, saya yakin kita semua berpendapat bahwa ini adalah sesuatu yang sangat baik. Tapi sebenarnya, toleransi pun ada batasnya. Sebab toleransi yang kebablasan akan membuat kita terjerumus pada sikap “mengikuti perilaku golongan lain.” Dalam Islam, dibuat pembagian yang tegas antara “toleransi agama” dengan “toleransi umat beragama”.

Toleransi agama adalah sikap permisif terhadap ajaran agama lain. Contoh konkrit: Umat Islam ikut merayakan hari Natal, atau umat Kristen ikut puasa di bulan Ramadhan. Inilah jenis toleransi yang tidak diperbolehkan. Kenapa? Sebab sikap seperti ini sangat bertentangan dengan prinsip fanatisme. Sikap toleransi terhadap ajaran agama menunjukkan bahwa keyakinan kita terhadap agama yang kita anut tidak terlalu kuat. Artinya, kita tidak fanatik terhadap agama kita sendiri. Kalau terhadap agama saja kita tidak fanatik, lalu “objek” apalagi yang akan kita fanatiki? Masa kita lebih fanatik terhadap finalis Indonesian Idol daripada terhadap agama sendiri? Yang benar saja!

Yang perlu kita kembangkan dan lestarikan sebenarnya adalah toleransi umat beragama. Maksudnya, kita menjaga hubungan baik dengan penganut agama lain. Kita bersahabat dengan mereka, saling silaturahmi, menjalin kerjasama bisnis, dan sebagainya. Semua itu boleh-boleh saja. Selama hubungan yang terjalin masih sebatas hubungan sosial kemanusiaan, tak ada yang perlu dipermasalahkan.

Tapi ketika sudah menyangkut ritual keagamaan dan sejenisnya… eits…. stop! Jangan dilakukan. Ini sudah melanggar asas toleransi dan fanatisme. Ini adalah toleransi yang kebablasan. Ini adalah fanatisme yang lemah serta bobrok.

Toleransi yang kebablasan akan membuat kita kehilangan identitas (karena kita sibuk menyesuaikan diri dan mengekor pada orang lain).

Fanatisme yang lemah akan membuat kita sangat permisif terhadap keyakikan dari golongan lain. Ini sami mawon dengan toleransi yang kebablasan.

Jalan tengahnya adalah: melaksanakan toleransi yang pada tempatnya (toleransi umat beragama) dan fanatisme yang tetap menghargai perbedaan.


Tunjukan aku pada Jalan MU yang lurus

Diposting oleh fahmi petrucci | 22.54

Dari masa ke masa tlah terlewati
Dari pertama ku menginjak bumi 
Sampai aku bisa mencurahkan kata2 ini
Dimana Dia lah Allah segala yang memeliharanya
Segala yang mengatur & menghancurkan atas kehendak-Nya
Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam
Andai saja manusia bisa seperti langit,bumi dan segala isinya
Dimana setiap saat bisa memuji-Mu, bisa tuk mengingat-Mu
Maka manusia pun takkan pernah tenggelam dalam kenistaan
Sedang aku tak bisa tuk slalu mengingat-Mu
Dunia dan hawa nafsu ini 
Slalu saja membuatku lupa pada-Mu
Seakan ada selaput yang menghalangiku 
Tuk selalu mengingat-Mu
Dan bagaimana aku bisa mencintaiMu 
Padahal selalu saja aku melupakan-MU


Aku tlah banyak meninggalkan kewajibanku 
Sedang aku hanya meminta hakku
Maafkan lah aku yang tak adil ini ya Allah, 
Tuhan yang Maha Adil
Hanya Engkau lah yang tahu keadilan yang seadil-adilnya
Ampunilah segala apa yang tlah aku lakukan di dunia ini
Hanya Engkau lah Maha Pengampun
Dan tunjukanlah aku pada Jalan kebenaran-Mu
Kebenaran yang sesungguhnya
Karena aku takut terjebak dalam kebenaran 
dunia ini yang sebenarnya dusta
Dan dusta yang telah nyata 
Menjadi kebenaran dan pembenaran


Berilah aku petunjuk-Mu, 
Karena Engkau mengetahui apa yang ada dalam isi hati ini
Dan jadikanlah aku 
Diantara orang-orang yang selalu mengingat-Mu
Bila kehidupan ku ini sebuah cobaan dari-Mu, 
Berilah aku kesabaran dalam menjalaninya
Bila kehidupan ku ini sebuah teguran dari-Mu, 
Ingatkan aku agar aku selalu mengingat-Mu
Dan bila kehidupan ku ini sebuah azhab dari-Mu, 
Arahkanlah aku pada jalan yang lurus
Sampai ku berlinang air mata, 
Tak terbayang betapa besar KeAngungan-Mu


apakah itu kepentingan ?

Diposting oleh fahmi petrucci | 05.16

mengapa kita terlahir diatas kepentingan?
sedangkan kita hanya menjalankan apa yang seharusnya dijalankan
tapi berbagai cara kita mendewakan kepentingan itu sendiri
tanpa melihat-Nya sebagai tuhan yang Maha Mengetahuiu segala sesuatu
berawal dari kearogansian, lalu munculah sebuah pembenaran
yang mengatasnamakan hak diatas kewajiban,tanpa menjalankan kewajiban itu sendiri
dan diantara keangkuhan yang menyiksa diri
itulah penyakit dari segala penyakit yang sebenarnya

apa itu kepentingan? untuk siapa kepentingan itu?
dan apa tujuannya?
hingga sekumpulan orang merasa hebat diantara yang lain
bagai magnet yang ingin menarik setiap yang dilalui nya untuk menjunjung kepentingan itu
tanpa mengetahui tujuan utama dari kepentingan itu sendiri
hingga mereka pun bingung dengan apa yang sudah berjalan
dan mereka pun tak tahu kemana arah tujuan
dan akhirnya mereka mendahulukan kepentingannya diatas kepentingan yang lain
berbagai cara dan teknik dilakukan sedemikian halus
bagai angin surga yang menghembuskan kesejukan lalu berubah menjadi api yang panas

itulah kepentingan dunia yang tak berujung
saling tumpang tindih satu sama lain
walau kadang mengorbankan harga diri demi kepentingan
walau menjual iman demi sesuap nasi...
itulah kepentingan di dunia ini..
sebuah kebohongan dengan bungkusan warna keindahan
sebuah pencitraan yang seharusnya gelap menjadi terang..
dan terang pun seakan terlihat redup
tak ada kah yang lebih baik dari kepentingan?


Lainnya